Teknologi dan Modernisasi Kesenian

Sikap kritis ini bukan untuk memvonis segala yang ada pada Barat adalah buruk. Karena kita tidak bisa menjamin pembelaan atau penolakan yang seratus persen terhadap suatu budaya luar yang memastikan manusia akan lebih layak dalam kehidupannya. Ia masih harus disikapi lagi agar setiap manusia itu tidak mengalami shock culture atau menjadi sangat terpinggir lagi.

Begitu juga saat seorang seniman menerima tawaran budaya seperti menggunakan teknologi digital dalam hal berkesenian tetaplah harus dikritisi pula. Seperti pernyataan DR. Rahayu Supanggah Skar dalam seminar International on Arts and Technology di STSI Surakarta, 16-17 Juli 2001,

“Mereka dengan mudah memproklamirkan dirinya sebagai (seniman) modern dengan sekedar menggantikan biola akustik dengan (keyboard) casio, menggelar pertunjukkan atau menayangkan wayang dengan memberdirikan pesindennya atau menyemprotkan dry ice, gun smoker, laser slide atau hiruk pikuknya lampu berwarna-warni yang alasannya serta pertanggungjawaban estetik dan etiknya perlu ditanyakan.”

Lebih lanjut Rahayu mengutarakan seniman yang menggunakan teknologi untuk cepat mendapat popularitas atau menjadi kaya dengan sekedar memberi label modern, bukan untuk menambah kemampuan demi kualitas kesenimannya. Dalam situasi ini menurutnya, seniman acap disebut “bersembunyi” di balik teknologi dengan menyandarkan sepenuhnya pada kemudahan-kemudahan fasilitasnya. Ada “frekwensi nada” yang cukup tinggi, yakni “curiga”. Tapi bukankah “curiga” bisa memiliki tendesi hal-hal yang baik juga?

Mengutip pernyataan Krisna Murti saat diskusi Parengkel Jahe di Galeri Hidayat, Mei 2002, ia beranggapan teknologi itu hanya alat pembantu saja untuk menciptakan keseimbangan bagi manusia. Hal ini juga tertuang dalam pernyataan Krisna saat mempertunjukkan instalasi video Wayang Machine di Galeri Barak, 2001.

“Saya kira saya harus menguasai bahasa baru tersebut untuk menimalisasikan kesenjangan manusia dengan lingkungannya. Teknologi digital misalnya, saya meyakini diciptakan manusia tidak untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan ekonomis dan yang fisik sifatnya, tapi ia mesti patuh kepada kita untuk bisa menolong menciptakan keseimbangan kehidupan yang baru (bagi kita).”

Comments are closed.