Pertentangan Antara Lokal dan Global

Dalam pertentangan antara lokal dan global, terkait pula dengan identitas politik yang menyebabkan seniman harus mengambil posisi strategis. Ini diperlukan agar seniman tidak hanyut atau hanya menjadi penonton dari arus perubahan itu sendiri, tanpa mampu berbuat apa-apa artinya diatur oleh orang lain.

Manusia tidak membiarkan diri begitu saja dihanyutkan oleh proses-proses alam, ia dapat melawan arus itu! ia tidak hanya mengikuti dorongan alam, tetapi juga suara hatinya. Kesasaran ini merupakan suatu kepekaan yang mendorong manusia agar dia secara kritis menilai kebudayaan yang sedang berlangsung. Pada tahap berikut, dia secara praktis mampu menyusun kembali kebudayaan itu sendiri.

Untuk menyusun kembali atau pembacaan ulang terhadap teks –kebudayaan– dimaksudkan pula melakukan dekonstruksi. Sebagai usaha untuk mempertahankan atau mengembangkan kebudayaan itu sendiri. Dengan demikian, seperti yang diungkapkan oleh Mantan Menteri Riset dan Teknologi, DR. Muhammad AS Hikam Mu APU, “Pembahasan seni dan teknologi bisa dibaca sebagai pertemuan sesuatu yang bertumpu pada ‘rasa’ dengan sesuatu yang mengandalkan ketajaman ‘analisa’ rasional.”

Sikap kritis terhadap segala bentuk kebudayaan baru, baik yang memiliki tendensi buruk atau baik akan lebih membuka persoalan kebudayaan tersebut menjadi diskursus yang pada akhirnya nanti memperjelas “sikap” individu tersebut.

Comments are closed.