Pembacaan Teks Kebudayaan dan Filsafat Barat

Mengenai “pembacaan teks” budaya yang telah banyak menimbulkan paradoks seiring dengan koreksi terhadap cara berpikir filsafat Barat yang selama ini mendominasi. Pembacaan teks budaya yang dilandasi filsafat Barat –masa sebelum lahirnya post-modernisme– selalu menyatakan –baik secara malu-malu ataupun tidak– bahwa kebudayaan Barat lebih tinggi dibandingkan dengan kebudayaan yang lain.

Ini terbukti dengan imprealisme bangsa Barat selama ini yang secara langsung ataupun tidak telah menyebarkan kebudayaan kepada bangsa jajahannya. Pada zaman sebelum kemerdekaan, selain menjajah bangsa Indonesia dan mencuri hasil bumi, bangsa Belanda misalnya, juga menyebarkan kebudayaan khas Eropa. Salah satu contohnya adalah bentuk bangunan yang berada di Jalan Braga Bandung. Sebagian besar ruko-ruko tersebut memiliki gaya art deco yang khas Eropa.

Meski Barat kini menyadari bahwa setiap wilayah atau belahan bumi memiliki karakternya sekaligus kelebihannya tetap menganggap Timur adalah sesuatu ‘yang lain’ (the others). Paradigma Barat yang dilandasi dari nilai-nilai

modernisme ini selalu menggunakan bahasa seperti pencerahan, peradaban, dan sebagainya untuk Timur yang seolah-olah perlu diselamatkan atau diberi pelajaran karena dianggap tidak memiliki pengetahuan bahkan dianggap tidak beradab.

[1] Filsafat barat menurut Derrida, hanya pergantian nama saja yang tetap mempertahankan pusat sebagai segalanya.

[2] konsep arsitektur modern disign yang memperbaharui inspirasi dari seni tradisi yang membersihkan ide fungsional bangunan. Art Deco berkembang sekitar tahun 1920-an di daratan Eropa. Di Bandung pertama kali yang memperkenalkan art deco perusahaan Firma Roth & Son di Barga dan Meubel Fabriek Frisia. Arsitektur yang terkenal adalah Schoemaker bersaudara. Arsitektur ini dapat dilihat dari bentuk hotel Savoy Homan, Gedung Isola UPI, dan sebagainya.

Save

Comments are closed.