Dekonstruksi Kebudayaan

Pembacaan ulang suatu teks kebudayaan dapat pula diartikan sebuah koreksi terhadap kebudayaan itu sendiri. Pengertian koreksi dalam konteks ini bukan persoalan apakah kebudayaan itu salah atau benar posisinya dalam kehidupan manusia. Tetapi lebih pada penekanan terhadap persoalan bagaimana teks kebudayaan itu berinteraksi dengan manusia pada suatu waktu.

Bentuk-bentuk koreksi itu bisa berupa melakukan kerja dekonstruksi yang kemudian mencoba memunculkan alternatif lain tentang makna dari suatu produk budaya. Kuncinya adalah bagaimana meletakkan teks tersebut pada konteksnya yang tepat. Dengan demikian kerja dekonstruski itu menghasilkan makna-makna baru yang tentunya berguna bagi masyarakat.

Dalam kerja dekonstruksi inilah kita dapat melihat juga bahwa kebudayaan itu juga merupakan ketegangan antara imanensi dan transendensi yang dapat dipandang sebagai ciri khas dari kehidupan manusia seluruhnya yang terus berubah. Hidup manusia berlangsung di tengah-tengah arus proses-proses kehidupan (imanensi), tetapi selalu juga muncul dari arus alam raya itu untuk menilai alamnya sendiri dan mengubahnya (transendensi).

Ketegangan-ketegangan khas yang dirasakan oleh manusia pada suatu waktu dapat menciptakan perubahan yang besar dalam tata kehidupan manusia. Dan akhirnya ketegangan itu (baca : persoalan budaya) masuk dalam berbagai ketegangan tata nilai.

Salah satu ketegangan itu adalah terjadinya Revolusi Industri di Eropa yang membawa berbagai konsekuensi dalam setiap sendi kehidupan sampai awal millenium ke-3 ini. Konsekuensinya membawa setiap orang untuk berlomba-lomba ingin menjadi modern. Teknologi yang ditempatkan sebagai instrumen dan lambang masyarakat modern menurut Jabatin Bangun telah menjadi “kebenaran” bagi sebagian besar masyarakat dunia.

Lebih jauh revolusi industri itu telah bermetamorfosa menjadi revolusi informasi dengan basis kekuatan teknologi informasi, seperti internet, satelit, dan sebagainya. Kehadiran teknologi informasi tersebut berimplikasi besar dalam kehidupan manusia. Batas-batas seperti negara, budaya, kebijakan politik, kebijakan ekonomi menjadi lebur. Inilah yang disebut Mcluhan global village atau Kampung dunia. Globalisasi.

Kini setiap orang dari belahan dunia manapun –walau tidak semua— dapat merasakan efek dari ledakan kebudayaan itu. Penayangan acara sepak bola dunia di Jepang dan Korea (2002) atau “menikmati” pembantaian etnis di Bosnia dapat kita nikmati dari layar televisi atau radio yang terpasang dari mulai ujung Skandinavia sampai Timor-timur yang baru merdeka, dari orang yang makan bubur pedas sampai Mcdonald’s, dari ibu-ibu PKK sampai anak gadis yang menyenangi tank top dan sebagainya.

Secara bersamaan “keberhasilan” revolusi-revolusi tersebut menciptakan mimpi buruk bagi manusia. Globalisasi yang dimaksudkan untuk menata kehidupan dunia agar lebih baik ternyata utopia. Di satu sisi ia menciptakan sesuatu yang baru dan pada saat bersamaan ia juga menciptakan sesuatu yang “baru” pula dalam bentuk yang menakutkan. Perang salah satu wujudnya.

Comments are closed.