Cita-Cita Modernisme

Cita-cita modernisme yang menginginkan suatu tatanan dunia yang layak bagi kehidupan manusia ternyata memiliki paradoks. Emansipasi yang ditawarkan oleh semangat modernisme ternyata “isapan jempol belaka”. Emansipasi itu hanya diperuntukkan bagi legitimasi Barat. Dengan berdalih atas nama humanisme dan hak asasi manusia, segala perbuatan yang mematikan karakter harus “dibumihanguskan”. Bukankah jargon ini untuk menutup perilaku Barat atau negara-negara kolonial atas perilaku mereka dahulu? Atau mereka benar-benar sudah “bertobat”?

Sampai saat ini kita masih dapat melihat dan mengkonsumsi produk universal yang ditawarkan oleh Barat –yang sebenarnya juga— untuk mengontrol negara-negara dunia ketiga, seperti Undang-undang Anti Teroris, Copyright, IMF, PBB, dan sebagainya. Sebenarnya produk-produk seperrti ini bila tidak dikritisi akan menyebabkan ketidakpercayaan terhadap apa yang dimiliki oleh negara dunia ketiga. Menyebabkan segala sesuatu yang datangnya dari luar selalu bagus, indah dan patut dicontoh. Lalu bagaimana kabarnya dengan “kekuatan”, “kekayaan”, “pemikiran” yang sifatnya lokal?

 

Comments are closed.