Barat Bukanlah Kiblat Dari Kebudayaan

Penulis melihat praktik-praktik pembacaan suatu teks kebudayaan itu dibaca oleh sekelompok masyarakat atau institusi melalui berbagai media tetap mengacu pada pandangan bahwa Barat-lah yang dijadikan contoh. Pembacaan yang menghasilkan pehamanan ini kemudian menyebar dan telah dibenarkan begitu saja oleh banyak orang (given).

Tentu untuk menghasilkan suatu pemahaman memerlukan proses yang panjang. Proses ini bisa berupa hasil dari negosiasi atau kesepakatan yang bisa jadi merupakan suatu benturan kelas-kelas yang bertentangan. Dengan demikian mengikuti pemikiran Antonio Gramsci, pemahaman yang telah dibenarkan atau diterima oleh sekelompok orang atau masyarakat itu telah dinegosiasikan melalui serangkaian perjumpaan dan –bisa juga—bentrokan antara kelas-kelas. Maka terciptalah makna dari proses tersebut yang mengatasi makna lain.

Hegemoni makna ini secara luas berimplikasi ke seluruh dimensi sosial masyarakat Indonesia. Pada kasus Soeharto misalnya, selama menjadi presiden suara-suara kritis dibungkam bahkan dimatikan. Kritik pada jaman Soeharto dianggap suatu tindakan subversif. Media massa pun tidak banyak berbuat banyak termasuk kaum intelektual.

Hal inilah yang menyebabkan tidak adanya budaya kritik yang sehat dalam masyarakat Indonesia. Kondisi ini pula menyebabkan pula orang-orang menjadi tidak biasa untuk mengkritik dan dikritik. Di sisi lain, hegemoni makna juga menyebabkan sebagian besar masyarakat tidak mau berusaha mencari pemahaman dengan perspektif yang berbeda.

Padahal dengan perspektif yang berbeda ini setiap orang menjadi sadar bahwa mereka memiliki suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Perbedaan inilah yang kemudian mengangkat politik diferensiasi setiap negara, setiap daerah, setiap kampung, setiap RT atau RW, untuk menghargai kemampuan-kemampuan lokal yang selama ini terpinggirkan oleh budaya-budaya “besar” terutama dari pusat atau Barat. Disinilah dengan politik diferensiasi kita menjadi bangga menjadi bangsa Indonesia –dengan segala kekurangannya, bangga menjadi anggota Karang Taruna dan sebagainya.

Comments are closed.